Religi

Niat Puasa Ramadhan

Apa itu “niat”? secara etimologi atau bahasa, niat atau niyyat berarti “sengaja” atau sesuatu yang dimaksudkan atau disengajakan. Pendapat yang lain, Syarah al-Aini, niat adalah tekad bulat hati atau bisa juga dikatakan sebagai “keinginan”. Keinginan buah dari ilmu atau merupakan ilmu itu sendiri. Jadi, seseorang dikatakan berniat jika di dalam hatinya terhadap keinginan terhadap sesuatu hal. Niat adalah amalan hati sehingga prioritasnya adalah ditujukan kepada hati.
Adapun mayoritas masyarakat kita terbiasa melafadzkan niat dengan lisan, tidak hanya niat puasa, tapi niat untuk ibadah-ibadah lain seperti shalat, wudhu, tayamum, dan lain-lain, hal ini sudah diajarkan sejak dini di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sebagian kita malah beranggapan bahwa niat itu adalah apa yang kita ucapkan dengan lisan (jika belum mengucapkan niat seolah-olah merasa belum berniat) sehingga kita sibuk menghafalkan lafadz niat (dalam bahasa Arab) tanpa tahu makna dan hakikat niat itu sendiri sebenarnya yang ada di dalam hati. Lisan hanya sekedar untuk membantu menyempurnakan atau mengokohkan niat meskipun sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Berikut ini merupakan lafadz niat Puasa Ramadhan

َوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
NAWAITU SHOUMA GHODIN ‘AN ADAA-I FARDHI SYAHRI ROMADHOONI HADZIHIS SANATI LILLAHI TA’AALA

Artinya: Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’aala

Ada perbedaan dalam lafadz di atas, apakah dibaca Romadhona atau Romadhoni karena terjadi perbedaan dalam pandangan Nahwu atau tata bahasa Arab. Umumnya yang sering dipakai di masyarakat adalah Romadhona sampai kemudian dikoreksi bahwa yang lebih tepat dibaca Romadhoni bukan Romadhona. Adapun yang ingin membacanya dengan Romadhona, hilangkan ucapan “hadzihis sanati” dalam lafadz di atas.

Waktu untuk berniat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari sampai sebelum terbit fajar (sebelum Imsak). Niat bisa dilakukan setiap hari atau niat pada awal Ramadhan saja. Adapun jika memilih untuk berniat di awal Ramadhan, dan kemudian di pertengahan kita tidak berpuasa maka kita harus mengulang kembali niat puasa Ramadhan kita.

Bagaimana dear? apa kesimpulan yang di dapat dari pembahasan singkat di atas? Jadi, utamakan niat itu di dalam hati karena itulah tempatnya niat. Niat adalah buah dari ilmu atau pengetahuan kita tentang ibadah yang akan kita jalankan atau niat itu adalah ilmu atau pengetahuan tentang ibadah itu sendiri. Jadi, kalau kita tahu bahwa besok akan puasa Ramadhan dan kita berkehendak, berkeinginan kuat untuk berpuasa maka hal ini sudah terhitung sebagai niat. Adapun jika tahu besok puasa, tapi di hatinya tidak ada keinginan untuk berpuasa maka berarti tidak ada niat. Bagaimana? bingung? jika masih ragu sudah ada niat atau tidak, silahkan saja lafadzkan ucapan niat puasa Ramadhan (dengan bahasa arab atau bahasa indonesia) jika hanya dengan cara itu kita bisa merasa yakin kalau kita sudah merasa berniat.
Wallahu A’lam Bishawab.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *