Informasinussa

Episode Baru Nussa: Siapa Kita?

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-A’raf 54)

Membaca judul episode terbaru serial animasi pendek Nussa tentu membayangkan bahwa episode film kali ini belajar tentang mengenal diri kita sebagai manusia yang merupakan salah satu makhluk Allah atau diri kita sebagai hamba Allah yang ditugaskan untuk beribadah kepada-Nya. Namun, ternyata tidak, sebab dalam episode ini, narasinya adalah belajar tentang alam semesta yang di dalamnya terdapat sekumpulan planet-planet yang mana bumi adalah salah satu planet tersebut. Siapa kita? Sebenarnya adalah pertanyaan tentang siapa kita bila dibandingkan dengan luasnya alam semesta. Manusia tidak apa-apanya, kecil sekali, bahkan tidak bisa terlihat dari langit. Siapa kita sebagai makhluk (bukan atas nama pribadi) Allah yang begitu kecilnya rasanya tidak pantas kita menyombongkan diri jika kita sudah melihat betapa luasnya alam semesta. Ketakjuban kita padanya menghantarkan keimanan pada penciptanya, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Nussa: Siapa Kita

Ceritanya saat itu Rara sedang bermain sendirian di kamarnya dengan miniatur galaksi (tata surya) bima sakti di atas tempat tidur kamarnya bersama dengan kucingnya yang bernama Anta. Rara memainkan miniatur galaksi itu tanpa mengerti benda apa itu, ia sempat berpikir benda itu mirip seperti permen, tapi kemudian ia berpikir lagi dan menyanggah pikirannya. Rara sepertinya penasaran dengan benda di hadapannya, sampai kemudian Nussa mengagetkannya dengan mainan berupa miniatur Brontosaurus — salah satu jenis hewan dinosaurus.

Nussa pun tertawa saat melihat adiknya terkejut dengan mainan yang ditunjukkannya secara tiba-tiba di hadapaan wajahnya. Lalu Nussa bertanya pada Rara sedang melakukan apa. Seketika saat melihat miniatur tata surya, tanpa menunggu jawaban, Nussa pun mengatakan bahwa benda yang sedang dimainkan Rara adalah miniatur tata surya. Nussa agak heran mengapa miniatur tersebut ada di kamar Rara.

Mendengar abangnya berkata bahwa itu miniatur tata surya, timbul pertanyaan baru di kepala Rara, “Apa itu tata surya?”. Abangnya kemudian menjelaskan dengan fasih bahwa tata surya adalah “kumpulan benda langit yang terdiri dari matahari dan semua planet yang mengelilinginya.”

Mendengar penjelasan Nussa, Rara kemudian menunjuk salah satu planet paling besar yang berada di tengah sebagai bumi dan ia menyimpulkan bahwa mereka tinggal di dalamnya. Nussa kemudian berkata “bukan” karena yang ditunjuk Rara adalah matahari, kemudian tangannya menggeser tangan Rara yang menunjuk ke matahari itu ke posisi bumi yang sebenarnya sambil berkata, “ini bumi… bumi itu kecil, apalagi kita”.

Rara hanya membulatkan bibirnya “Ooooo.. gitu”. Saat melihat replika si Brontosaurus yang sedang digigit-gigit sama Anta, Rara bertanya lagi, “Kalau dinosaurus?”. (Rara ternyata sudah tahu tentang dinosaurus bahwa dinosaurus itu badannya besar).

Nussa kemudian menjawab, “Nah, dinosaurus yang badanya besar aja tetep gak keliatan dari atas langit”. Rara kemudian mengamini kata-kata abangnya itu, “Iya ya, Rara baru tahu kalau alam semesta itu besar banget”. Ujung dari pernyataan Rara, ia bertanya memastikan, “Ini semua ciptaan Allah ya?

Betul banget, coba deh kamu baca surat Al-A’raf ayat 54″, jawab Nussa, ia pun menyambung bahwa di dalam surat tersebut dijelaskan tentang penciptaan alam semesta oleh Allah.

Wah, keren.. keren.. keren,” kata Rara.

Entah, apa maksud keren yang diucapkan Rara, namun Nussa menganggapnya sebagai pujian adiknya kepadanya, ia melebihkan dirinya. “Keren? Iyaa dong, Nussa gitu lho (sambil memalingkan wajah dari adiknya), hehe… uda keren (mulai memejamkan mata).. smart of course, iya kan Ra?”

Krik.. krik.. krik… 

Meongggg

Rupanya Rara sudah menghilang dari kamar. Terdengar di luar kamar, Rara berseru minta makan sama uminya karena lapar.

Cerita episode Nussa –tentang belajar mengenal alam semesta sebagai upaya mengenali diri– sangat sederhana. Ada beberapa poin di film yang menarik untuk diulas secara ringkas. Seperti, dari manakah miniatur tata surya yang dimainkan Rara di kamarnya? Apakah berasal dari kamar Nussa yang kemudian karena rasa tertarik (namanya juga anak kecil) akhirnya Rara mengambil dan membawanya ke kamar untuk dimainkan? Mungkin saja. Namun, rasa-rasanya akan jauh lebih baik menurut saya jika latarnya adalah kamar Nussa daripada kamar Rara. Sehingga ceritanya, Rara mengunjungi kamar Nussa dan tak sengaja melihat miniatur tata surya di meja belajarnya Nussa dan karena didorong rasa tertarik, Rara akhirnya memainkannya.

Berikutnya saat dikejutkan oleh Nussa, penggambaran keterkejutan Rara sepertinya kurang realistis. Mungkin butuh eksperimen dengan mengagetkan anak kecil untuk melihat bagaimana cara mereka terkejut. Apakah terkejut dulu, baru memalingkan wajah dengan berucap istigfar dan berkata “monster!” ? atau kaget sambil menyebut istighfar dengan cepat dan setengah berteriak tanpa embel-embel kata “monster” ?

Saat Nussa menanyakan tentang apa yang sedang dilakukan Rara, Nussa tanpa basa basi langsung menjelaskan “Ini namanya miniatur tata surya”, rasanya adegan ini agak janggal. Begitu pun, saat menjelaskan tentang tata surya dan alam semesta, Nussa sepertinya adalah anak yang cerdas, suka belajar, dan banyak membaca. Apakah ada anak secerdas itu saat menjelaskan sesuatu? Anak SD mungkin belum bisa menjelaskan sebagus itu kecuali dia benar-benar anak yang sangat pintar dan sudah punya kemampuan bicara yang bagus. Minimal anak SMP atau anak SMA lebih cocok rasanya.

Hal berikutnya, ini menjadi catatan menarik perihal dinosaurus dan peta Indonesia. Adegannya Nussa berkata, “dinosaurus yang badannya besar aja”, saat itu gambar menampilkan Brontosaurus yang sedang makan daun pohon dan di zoom out hingga menampilkan peta yang kemungkinan lokasinya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak Jawa Barat (hanya perkiraan saja), dan kemudian di zoom out lagi hingga menampilkan peta Indonesia, dan akhirnya tampak planet Bumi dengan matahari dan planet-planet lainnya . Sebagaimana diketahui, bahwa zaman dinosaurus adalah zaman di mana saat itu kepulauan Indonesia belum ada, belum terbentuk, dan benua-benua masih ada dalam satu kesatuan yang dinamakan Pangea. Kekeliruan ini mungkin tak banyak dipermaslahkan karena substansinya juga tidak menjelaskan tentang kehidupan dinosaurus, melainkan hanya upaya untuk membandingkan antara ukuran dinosaurus dan manusia jika dilihat dari langit.

Namun, bisa dipahami mengapa menggunakan peta Indonesia atau peta dunia modern saat ini saat menampilkan dinosaurus, agar mudah dicerna bawa dinosaurus yang pernah hidup di Bumi ini, yang badannya besar sekali, itu saja masih kecil dan tidak terlihat dari atas langit apalagi manusia yang lebih kecil dari dinosaurus. Hanya saja hal-hal yang bersifat detail seperti ini rasanya perlu diperhatikan.

Tayangan episode kali ini berdurasi 2:57 menit dan berhasil ditonton sebanyak 1.570.843 (saat tulisan ini dipoting).

Ada quote menarik di akhir tayangan:

Bila kita takjub dan kagum dengan ciptaan-Nya, seharusnya kita lebih banyak takjub dan kagum pada penciptanya

cafeteria

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Informasi